● online
- Professional Alcohol Tester AMT8800
- Color Difference Meter / Precise Colorimeter AMT50
- Grain Moisture Meter Kett PM 650
- Alat Uji Formalin Pada Makanan Formaldehyde Detect
- Plant Physiology and Ecology Monitoring System
- Alat Penguji Kekerasan Tablet YD-3
- Analytical Balance Internal Calibration A006-T
- Dissolved Oxygen Meter DO-609L
Panen Jagung dan Pasca Panen Jagung
Panen Jagung dan Pasca Panen Jagung merupakan kegiatan yang menentukan terhadap kualitas dan kuantitas produksi, kesalahan dalam penanganan panen dan pasca panen dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bahkan produk kehilangan nilai ekonomi. Karena itu penanganan panen dan pasca panen secara benar perlu mendapat prioritas dalam proses produksi usahatani jagung.
Masalah utama dalam penanganan pasca panen jagung di tingkat petani adalah masih tingginya kehilangan hasil mulai dari panen sampai pasca panen. Hal ini disebabkan terbatasnya pengetahuan dan keterampilan petani dalam penanganan panen dan pasca panen serta alsin yang cukup mahal.
Penanganan pasca panen yang tepat diperlukan untuk mendapatkan jagung yang bermutu tinggi dan menekan kehilangan hasil. Penanganan yang kurang baik akan menyebabkan kerusakan biji sehingga menurunkan mutu dan harga jagung. Teknologi penanganan pasca panen dapat menekan tingkat kehilangan kuantitatif dan kualitatif, serta menentukan derajat pencapaian peningkatan mutu.
Tahapan Panen Jagung dan Pasca Panen Jagung
-
Pemanenan Jagung
Pada proses pemanenan, penentuan umur panen merupakan hal yang perlu diperhitungkan karena bila jagung dipanen sebelum waktu panen akan menyebabkan banyak butir muda yang belum masak terpanen, sehingga kualitas jagung menurun begitu pula dengan daya simpannya juga akan menurun. Sebaliknya bila dipanen melebihi umur panen, jagung akan mengalami degradasi nutrisi yang mengakibatkan kenaikan kehilangan hasil serta ancaman dari tumbuhnya jamur (Aspergillus sp.) dan cendawan dengan tanda-tanda klobot dan atau biji berwarna kehitam-hitaman, putih dan kehijauan [1]. Ciri-ciri jagung yang telah memasuki umur siap panen yaitu a) jagung berumur 7-8 minggu setelah berbunga [2], b)daun dan batang tanaman mulai menguning dan berwarna cokelat pada kadar air 35-40% [1]. Penentuan umur panen juga dapat bervariasi berdasarkan varietas jagung yang ditanam.
Alat dan mesin yang digunakan dalam proses pemanenan jagung meliputi sabit (konvensional) dan alat pemanen jagung / corn harvester (modern) yang pada tahun 2015 telah mendapat pujian dari Menteri Pertanian dikarenakan dengan menggunakan alat pemanen ini dapat menekan biaya panen hingga 60% [3]. Untuk pemanenan dengan cara konvensional menggunakan sabit terdapat dua tipe pemanenan yaitu jagung tongkol dengan klobot dan pemanenan jagung tongkol tanpa klobot. Pada pemanenan jagung dengan klobot, jagung berkadar air tinggi yaitu berkisar 30-40% dan jagung disabit setinggi pinggang, lalu jagung segera dipetik dan dipisahkan dari kelobotnya. Jagung yang sudah bersih kemudian dimasukkan dalam keranjang. Sedangkan untuk jagung tanpa klobot, jagung berkadar air rendah berkisar 17-20% dan jagung dipisahkan terlebih dari klobotnya terlebih dahulu lalu dipetik jagung tanpa harus menyabit batang jagung terlebih dahulu.
-
Pengeringan jagung
Jagung yang berasal dari proses pemanenan biasanya memiliki kadar air yang terlalu tinggi dan amat berbahaya pada proses penyimpanan. Pengeringan diperlukan untuk mengurangi kadar air bahan sehingga aman untuk disimpan. Dengan pengeringan jagung juga lebih mudah untuk dipipil. Pengeringan pada jagung dapat dilakukan dalam beberapa tahap yaitu a) pengeringan jagung tongkol di lahan, cara ini biasanya digunakan para petani di daerah yang memiliki karakteristik tadah hujan dan kering yang periode perisapan penanaman berikutnya tidak mendesak, b) pengeringan dalam bentuk jagung tongkol, dan c) pengeringan dalam bentuk jagung pipilan [1]. Untuk pengeringan jagung tongkol sendiri terbagi menjadi 2 bentuk yaitu jagung tongkol berkelobot dan jagung tongkol tanpa kelobot, namun perlu diperhatikan bahwa pengeringan jagung tongkol berkelobot tidak dianjurkan karena memakan waktu yang lama dan hasilnya tidak baik.
Dalam pengeringan jagung terdapat dua metode pengeringan yaitu pengeringan dengan cara konvensional yaitu dengan pengeringan sinar matahari langsung dan cara modern dengan menggunakan alat pengeringan khusus jagung contoh bed dryer, recirculation batch dryer, dan continuous mix flow dryer, dan lain sebagainya. Pengeringan jagung dalam bentuk tongkol tanpa kelobot diusahakan mencapai kadar air 17-18% dan pengeringan jagung pipil dilakukan hingga mencapai 14-15%.
-
Pemipilan Butir Jagung
Pemipilan jagung berfungsi untuk memisahkan biji jagung dari tongkolnya. Pemipilan ini dapat dilakukan dengan cara manual dengan tenaga manusia maupun secara mekanis dengan menggunakan mesin pemipil. Pemipilan jagung manual dilakukan dengan tangan, tongkat pemukul, gosrokan, pemipil besi putarm pemipil besi bergerigi dan alat pemipil jagung sederhana lainnya. pemipilan menggunakan tangan oleh seorang wanita dewasa menghasilkan 2-9 kg biji jagung per jam tergantung dari keahliannya. Cara memipil dengan tangan adalah jagung tongkol dipegang dengan tangan kiri. Kemudian dengan tangan kanan biji jagung dilepas dari janggelnya, gunakan ibu jari untuk menekan dan mendorong jagung.

Alat pemipil TPI juga dapat digunakan untuk memipil jagung secara manual. Alat yang sederhana terbuat dari papan kayu dengan ketebalan 3 cm. Penggunaan alat ini adalah jagung tongkol dipegang dengan tangan kiri dan alat pemipil dengan tangan kanan. Jagung didorong masuk ke alat lalu alat pemipil diputar. Dengan alat ini dapat dihasilkan 12-15 kg biji jagung per jam per orang. Dalam penggunaan alat ini perlu diperhatikan keseeragaman besar jagung tongkol untuk mengurangi angka kerusakan butir jagung [4].

Sedangkan alat pemipil jagung mekanis (corn sheller) memiliki banyak variasi disesuaikan dengan kapasitas pengolahan yang diinginkan dan faktor-faktor lainnya.
4. Sortasi dan Pembersihan
Sortasi dilakukan untuk mendapatkan bahan dengan kualitas yang seragam dan mengelompokkan bahan dengan kualitas yang sama. Sortasi jagung memisahkan biji jagung sehat (baik) dari biji-biji pecah, rusak, dan hampa serta untuk menyeragamkan ukuran butirannya. Proses pembersihan bertujuan untuk membersihkan butiran jagung dari kotoran seperti sisa tongkol, seresah, dan kotoran-kotoran lainnya. proses sortasi dan pembersihan dapat dilakukan dengan cara manual (konvensional) menggunakan tangan dan peralatan sederhana atau dengan menggunakan cara mekanis yaitu menggunakan alat dan mesin pertanian. Secara manual sortasi dan pembersihan pipilan jagung dapat dilakukan dengan cara : a) menggunakan tangan untuk memilih dan memisahkan jagung yang rusak, pecah, hampa, dan kotoran-kotoran yang terbawa, b) menggunakan ayakan, jagung diayak sehingga kotoran dan jagung yang berukuran kecil akan jatuh dan terpisah sesuai ukurannya.
Sedangkan untuk cara mekanis dapat dilakukan dengan menggunakan blower/winowwer. Prinsip kerja blower/winowwer adalah menghembuskan udara pada pipilan jagung sehingga kotoran-kotoran, jagung berukuran kecil, dan hampa akan terpisah satu sama lain.
5. Penyimpanan dan Pengemasan
Setelah butir jagung bersih dan memiliki kadar air yang sesuai untuk proses penyimpanan maka proses selanjutnya adalah penyimpanan. Tujuan dari penyimpanan adalah untuk menjaga kualitas yang dimiliki oleh biji-bijian, kualitas dari bijian tidak dapat ditingkatkan selama proses penyimpanan sehingga menjaga agar kualitas butir jagung baik harus dilakukan dari awal proses pascapanen. Tak dipungkiri kerusakan bijian akan terjadi selama proses penyimpanan apalagi jagung adalah bahan biologis yang mengalami proses metabolisme dan kadar air, hal ini dipengaruhi oleh lingkungan seperti suhu dan kelembaban. Terdapat beberapa faktor penyebab kerusakan bijian, salah satunya adalah jamur, serangga, tikus, respirasi bijian, dan migrasi air.
Penyimpanan pada jagung terbagi menjadi 2 metode yaitu penyimpanan dalam karung dan penyimpanan curah. Secara umum kelebihan serta kekurangan dari kedua metode tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Namun perlu diperhatikan kedua metode ini aman selama dalam pelaksanaannya semua sesuai dengan aturan.
Tabel 2. Kelebihan dan kekurangan metode penyimpanan jagung
| No. | Dalam karung | Curah |
| 1 | Fleksibel | Tidak fleksibel |
| 2 | Sebagian dapat ditangani secara mekanis | Dapat ditangani secara mekanis seluruhnya |
| 3 | Penanganan lambat | Penanganan cepat |
| 4 | Tumpahan banyak | Tumpahan sedikit |
| 5 | Modal rendah | Modal besar |
| 6 | Biaya oprasi tinggi | Biaya operasi rendah |
| 7 | Potensi kehilangan karena hama tikus tinggi | Potensi kehilangan karena hama tikus rendah |
| 8 | Pengulangan serangan hama dapat terjadi | Perlindungan terhadap serangan hama kembali lebih baik |
Setelah menentukan metode penyimpanan yang digunakan, perawatan perlu dilakukan untuk menjaga agar butir jagung tidak terserang hama dan penyakit selama proses penyimpanan. Perawatan yang dapat dilakukan meliputi aerasi dan fumigasi. Aerasi adalah pengaliran udara kedalam ruang simpan untuk menjaga kelembaban dan temperatur ruang simpan, kemudian fumigasi adalah pemberian obat dalam bentuk gas (asap) ke dalam ruang simpan untuk memberantas hama.
Syarat udara untuk aerasi adalah suhu udara rendah (dingin) dan kelembabannya juga rendah (kering). Aerasi akan menghilangkan panas, bau apek, dan uap air sehingga potensi terserang hama dan penyakit berkurang. Aerasi juga berfungsi untuk mencegah perkecambahan serta mengurangi pemakaian bahan kimia. Selanjutnya untuk fumigasi, jenis pestisida yang digunakan untuk pemberantasan hama dan serangga haruslah memenuhi syarat berikut ini [5]: a) efektif pada cara pengunaan yang ekonomis, b) tidak meninggalkan residu yang melebihi batas maksimum (MRL), c) tidak mempengaruhi kualitas, rasa, dan bau bahan pangan; dan d) tidak mudah terbakar dan menimbulkan karat. Sebagai contoh BULOG menggunakan gas metil bromida dan phosphine sebagai bahan fumigasi gudang penyimpanannya.
Ketika semua proses pascapanen dari jagung diatas sudah terlaksana maka jagung dapat disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama dan kualitas yang tidak jauh berkurang dari awal proses pemanenan. Diharapkan kedepannya akan lebih banyak teknologi yang diterapkan pada bidang pertanian yang akan memudahkan para petani untuk mengambil hasil dari lahannya dan meningkatkan nilai tambah dari hasil panen yang didapatkannya.
Tags: Hasil Panen Jagung, Memanen Jagung Hibrida, Penanganan Pasca Panen Jagung
Panen Jagung dan Pasca Panen Jagung
Biological Oxygen Demand (BOD) merupakan konsep penting dalam kualitas air dan pengolahan air limbah. Ini mengukur jumlah oksigen yang dibutuhkan... selengkapnya
Jual Thermometer alat pengukur suhu ruangan, termometer pengukur suhu ruangan otomatis Kami jual via online. Anda tidak perlu cari nama... selengkapnya
Bahaya TSS dalam Air – Air merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak semua air memiliki kualitas yang aman... selengkapnya
Perusahaan yang membuang air limbah ke sungai wajib memastikan bahwa limbah cair yang dilepas telah memenuhi baku mutu lingkungan. Salah... selengkapnya
Langkah Efektif Cegah Corona sehingga kita tidak terjangkit virus Corona. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pandemi Virus Corona atau Covid-19... selengkapnya
Cara kerja drone sprayer pertanian adalah menyemprotkan pupuk atau pestisida cair ke area pertanian dengan mudah dan cepat. Produktivitas, efisiensi,... selengkapnya
Vaksin Corona Akhirnya Ditemukan, Pandemi corona sudah berlangsung berbulan-bulan, di mulai Bulan Desember 2019 di Wuhan Cina sehingga dinamakan COVID-19... selengkapnya
Setelah dipanen, gabah padi perlu dirontokkan, dikeringkan, dan digiling terlebih dahulu sebelum dipasarkan. Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air gabah... selengkapnya
Pertanian lahan kering merupakan salah satu jenis pertanian yang dilakukan di wilayah yang memiliki curah hujan rendah atau tidak teratur.... selengkapnya
Jika membicarakan tentang transportasi tentu hal yang kita pikirkan setelahnya adalah jalan raya, karna kebanyakan transportasi memang beroperasi di darat... selengkapnya
Portable Magnetic Particle Flaw Detector MT-1C adalah Alat pengukur keretakan pada suatu bangunan. Banyak digunakan dalam industri pembuatan pesawat, boiler… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPortable Speedy Grain Moisture Meter adalah Pengukur Kelembaban Bijian atau Pengukur Kadar Air Bijian dengan menggunakan metode pengambilan sampel langsung… selengkapnya
*Harga Hubungi CSHigh Speed Micro Centrifuge D3024 adalah salah satu jenis centrifuge yang menggunakan kecepatan tinggi dengan bentuk body yang kecil sehingga… selengkapnya
*Harga Hubungi CSProfessional pH Meter And Fluoride Meter PF900 adalah kombinasi sempurna dengan teknologi elektronik yang paling canggih, teknologi sensor dan desain… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPolarimeter Manual LWXG-4 merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran optik yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis… selengkapnya
*Harga Hubungi CSAutomatic Cleveland Open Cup Flash Point Tester SYD-3536D dirancang dan dibuat sesuai GB / T3536-2008 Produk Minyak – Penentuan Titik… selengkapnya
*Harga Hubungi CSElectric Seed Blower adalah alat untuk menghilangkan benih dan partikel mati & ringan dari benih yang bagus. Cara kerja Electric… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDigital Orbital Shaker and Linear Shaker adalah salah satu alat laboratorium. Kita mengenal sejumlah alat laboratorium yang digunakan untuk menghomogenkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBiological Microscope N-180M adalah microskop yang digunakan untuk melihat material yang sangat kecil, Mikroskop ini biasa disebut dengan Binocular Microscope…. selengkapnya
*Harga Hubungi CSDew Point Meter HT-6850 salah satu vairan dew point meter yang digunakan untuk mengukur titik embun pada suatu tempat. Dengan… selengkapnya
*Harga Hubungi CS

Saat ini belum tersedia komentar.