● online
- Handheld Homogenizers D-1601 D-1602
- Small Electric Laboratory Thresher
- Digital Grain Moisture Meter GMK-303
- Laser Distance Meter LDM-100
- Alat Pencocokan Warna Lovibond Tintometer WSL-2
- Waterproof pH Meter And Temperature Meter pH-200
- Chlorophyll Meter MC-100
- Shore Hardness Tester Untuk Busa dan Bahan Lembut
Teknik Penanganan Pasca Panen Padi
Teknik Penanganan Pasca Panen Padi adalah tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan (pemanenan) hasil pertanian yang meliputi hasil tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan sampai siap untuk dipasarkan (Anonim, 1986). Hasil utama pertanian adalah hasil pertanian yang merupakan produk utama untuk tujuan usaha pertanian dan diperoleh hasil melalui maupun tidak melalui proses pengolahan (Anonim, 1986).
Padi (Oriza sativa) adalah salah satu komoditi utama di Indonesia dengan produktivitas rata-rata untuk tahun 2015 sebesar 53,41 kuintal/ha. Padi telah dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia bahkan sebelum penjajahan terjadi yaitu 1500 SM dibawa oleh nenek moyang yang bermigrasi dari dataran Asia. Proses pembudidayaan padi dilakukan oleh petani baik secara konvensional maupun modern dengan menggunakan alat dan mesin pertanian. Penanganan padi dari mulai panen hingga menjadi produk akhir yang siap didistribusikan dinamakan pascapanen padi. Pascapanen padi adalah serangkaian tahapan kegiatan yang meliputi pemungutan (pemanenan) malai, perontokan gabah, penampian, pengeringan, pengemasan, penyimpanan, dan pengolahan sampai siap dipasarkan atau dikonsumsi. Proses pascapanen memiliki tujuan untuk mengurangi kehilangan hasil, menekan tingkat kerusakan hasil panen, meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas pertanian, meningkatkan nilai tambah dan pendapatan, meningkatkan devisa negara dan perluasan kesempatan kerja, melestarikan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Penanganan pasca panen hasil pertanian meliputi semua kegiatan perlakuan dan pengolahan langsung terhadap hasil pertanian yang karena sifatnya harus segera ditangani untuk meningkatkan mutu hasil pertanian agar mempunyai daya simpan dan daya guna lebih tinggi. Sesuai dengan pengertian tersebut diatas, kegiatan pascapanen meliputi kegiatan pemungutan hasil (pemanenan), perawatan, pengawetan, pengangkutan, penyimpanan, pengolahan, penggundangan dan standardisasi mutu ditingkat produsen.
Padi yang telah dipanen kemudian perlu dipisahkan antara gabah dan malainya dengan cara dirontokkan menggunakan beberapa metode yaitu diinjak/iles, pukul/gedig, banting/gebot, pedal thresher, dan mesin perontok. Thresher sebagai salah satu alat perontok padi modern terdiri dari 2 tipe berdasarkan posisi pemotongan, apabila dipotong bawah menggunakan pedal thresher dan apabila dipotong tengah atau atas menggunakan power thresher.Setelah didapatkan gabah dari proses perontokan, proses pascapanen selanjutnya adalah pembersihan padi/penampian dari kotoran. Proses penampian dapat dilakukan sebelum atau sesudah proses pengeringan, apabila proses pascapanen dari padi menggunakan combine harvester maka proses penampian tidak perlu dilakukan karena produk dari mesin combine harvester sudah dalam kondisi bersih dari kotoran dan gabah hampa, namun bila tidak menggunakan combine harvester maka proses pembersihan padi perlu dilakukan untuk memperoleh gabah bersih. Prinsip penampian adalah menggunakan hembusan angin baik secara alami maupun dengan aliran angin buatan(artificial wind).
Pengeringan diperlukan untuk mengurangi kadar air dari gabah, hal ini dikarenakan standar kadar air maksimum gabah untuk disimpan adalah 14%. Air yang berada pada gabah sangat beresiko menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme yang dapat merusak kualitas gabah. Terdapat dua cara pengerigan yaitu pengeringan alami (paparan sinar matahari langsung) dan pengeringan buatan (mekanis). Pengeringan alami biasanya dilakukan dengan cara menyebarkan gabah diatas terpal dan ditempatkan di areal terbuka. Cara ini memiliki kekurangan yaitu intensitas cahaya matahari yang tidak dapat dikontrol, losses karena faktor cuaca maupun hewan disekitar dan rentan terkena kotoran disekitar areal penjemuran sehingga cara ini mulai ditinggalkan dan berpindah ke cara pengeringan mekanis yang lebih terkontrol, bersih dan losses dapat dikurangi. Tipe pengering mekanis bermacam-macam bergantung terhadap kebutuhan, contoh batch dryer, recirculated dryer, continuous dryer, dan lain sebagainya.
Gabah yang bersih dan kering kemudian disimpan baik dalam keadaan curah (tanpa dikemas) atau di kemas. Penyimpanan gabah dalam keadaan curah memerlukan sebuah bangunan khusus yang berfungsi sebagai penampung gabah dengan karakteristik dan rancangbangun yang telah diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan penyimpanan, secara garis besar bangunan simpan curah dibedakan menjadi dua yaitu bunker dan silo. Sedangkan untuk penyimpanan dengan pengemasan, gabah dapat dikemas dengan mengunakan pengemas berbahan goni atau plastik. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih kemasan yaitu kemasan harus dapat melindungi gabah dari efek pengangkutan dan penyimpanan, kemasan tidak boleh mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari gabah dan tidak boleh membawa organisme penganggu (hama), kemasan harus berasal dari material yang kuat dan mampu menahan beban tumpukan, dan mampu mempertahankan keseragaman dari kualitas gabah.
Rendahnya mutu gabah disebabkan oleh tingginya kadar kotoran dan gabah hampa serta butir mengapur mengakibatkan rendahnya rendemen beras giling yang diperoleh (Setyono dkk. 2000). Butir mengapur selain dipengaruhi oleh faktor genetika, juga dipengaruhi oleh teknik pemupukan dan pengairan, sedangkan kadar kotoran dipengaruhi oleh faktor teknis, yaitu cara perontokan. Oleh karena sebagian besar pemanen merontok padinya dengan cara dibanting atau dengan menggunakan pedal thresher, maka gabah yang diperoleh mengandung kotoran dan gabah hampa cukup tinggi.
Tahapan penanganan pasca panen padi :
-
Penumpukan dan Pengumpulan.
Penumpukan dan pengumpulan merupakan tahap penanganan pasca panen setelah padi dipanen. Ketidak-tepatan dalam penumpukan dan pengumpulan padi dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang cukup tinggi. Untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kehilangan hasil sebaiknya pada waktu penumpukan dan pengangkutan padi menggunakan alas. Penggunaan alas dan wadah pada saat penumpukan dan pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil antara 0,94 – 2,36 %.
-
Perontokan.
Setelah dipanen, gabah harus segera dirontokkan dari malainya. Tempat perontokan dapat langsung dilakukan di lahan atau di halaman rumah setelah diangkut ke rumah. Perontokan ini dapat dilakukan dengan perontok bermesin ataupun dengan tenaga manusia. Bila menggunakan mesin, perontokan dilakukan dengan menyentuhkan malai padi ke gerigi alat yang berputar. Sementara perontokan dengan tenaga manusia dilakukan dengan cara batang padi dipukul-pukulkan, malai padipun dapat diinjak-injak agar gabah rontok. Untuk mengantisipasi agar gabah tidak terbuang saat perontokan maka tempat perontokan harus diberi alas dari anyaman bambu atau lembaran plastik tebal (terpal). Dengan alas tersebut maka seluruh gabah diharapkan dapat tertampung Setelah dirontokkan, butir-butir gabah dikumpulkan di gudang penyimpanan sementara. Oleh karena tidak semua petani memiliki gudang sementara, pengumpulan dapat dilakukan di teras rumah atau bagian lain dari rumah yang tidak terpakai. Gabah tersebut tidak perlu dimasukkan dalam karung,tetapi cukup ditumpuk setinggi maksimal 50 cm.
-
Pengeringan
Agar tahan lama disimpan dan dapat digiling menjadi beras, maka gabah harus dikeringkan. Pengeringan gabah umumnya dilakukan di bawah sinar matahari. Gabah yang dikeringkan ini dihamparkan di atas lantai semen terbuka. Penggunaan lantai semen terbuka ini agar sinar matahari dapat secara penuh diterima gabah. Bila tidak memiliki halaman atau tempat terbuka yang disemen maka halaman tanah pun dapat dipakai untuk penjemuran. Namun, gabah perlu diletakkan pada alas anyaman bambu, tikar atau lembaran plastik tebal. Hal ini dilakukan agar gabah tidak tercampur dengan tanah. Lama jemuran tergantung iklim dan cuaca, bila cuaca cerah dan matahari bersinar penuh sepanjang hari, penjemuran hanya berlangsung sekitar 2 – 3 hari. Namun, bila keadaan cuaca terkadang mendung atau gerimis dan terkadang panas. Waktu penjemurannya dapat berlangsung lama sekitar seminggu,sampai kadar air mencapai 14%.
-
Penggilingan
Penggilingan dalam pasca panen padi merupakan kegiatan memisahkan beras dari kulit yang membungkusnya. Pemisahan ada 2 cara : 1) Secara tradisional menggunakan alat sederhana, yaitu lesung dan alu; 2) Pemisahan beras dari kulitnya dapat dilakukan dengan cara modern atau dengan alat penggiling yaitu Hulle. Kendala penggilingan gabah secara tradisional adalah pengerjaannya sangat lambat, tenaga kerja yang memadai tidak tersedia dan alatnya sulit dijumpai. Sedangkan hasil yang diperoleh pada penggilingan dengan alat penggiling gabah Hulle sama dengan cara tradisional, yaitu pada tahap pertama diperoleh beras pecah kulit. Pada penggilingan tahap kedua, beras akan menjadi putih bersih.
- Penyimpanan Beras
Beras organik yang sudah digiling secara tradisional maupun modern dapat langsung dipasarkan. Namun, karena umumnya beras tidak langsung dapat dipasarkan seluruhnya maka perlu ada tempat penyimpanan. Teknik penyimpanan beras harus diperhatikan agar kondisinya tetap bagus hingga saatnya akan dijual
Umumnya beras disimpan di gudang setelah dikemas dalam karung plastik berukuran 40 Kg atau 50 Kg. Pengemasan dalam karung ini dilakukan secara manual oleh petani. Bagian karung yang terbuka dijahit tangan hingga tertutup rapat
Dalam gudang penyimpanan dapat saja beras diserang oleh hama bubuk. Biasanya hama bubuk ini menyerang beras yang tidak kering benar saat pengeringan. Hama bubuk tidak menyukai beras yang kering karena keras. Selain itu, hama bubuk pun menyukai tempat lembab sehingga ruangan gudang harus kering, yang dilengkapi dengan ventilasi udara. Penumpukan karung berisi beras di dalam gudang pun harus ditata sedemikian rupa agar beras yang sudah lebih dahulu disimpan dapat mudah keluar lebih awal.
-
Pemasaran
Ada dua cara pemasaran beras di Indonesia, pertama petani menjual langsung di lahan pada saat sudah siap panen kepada pedagang pengumpul yang disebut penebas. Penebas inilah yang akan memanen dan mengolahnya lebih lanjut menjadi beras. Kedua, petani sendiri yang memanen,mengeringkan,lalu menjual kepedagang pengumpul,baik berupa gabah kering giling atau sudah menjadi beras. Penjualan beras biasanya dilakukan petani langsung kepada pedagang beras di pasar, dititipkan kepasar swalayan atau dijual langsung ke konsumen.
Tags: Alat Ukur Kadar Air Gabah, Penanganan Pasca Panen Padi, Proses Pasca Panen Padi
Teknik Penanganan Pasca Panen Padi
Pengolahan tanah bertujuan untuk mengubah sifat fisik tanah agar lapisan yang semula keras menjadi datar dan melumpur. Dengan begitu gulma... selengkapnya
Ketika kita membicarakan batubara, kita akan sepakat bahwa batubara termasuk sumber daya Indonesia yang berharga dan tidak dapat kita lepaskan... selengkapnya
Bahaya Alkohol Bagi Tubuh dan Kesehatan – Alkohol merupakan bahan utama pembuatan minuman keras, dengan kadarnya yang berbeda-beda, seperti wishky,... selengkapnya
Alat ATP Hygiene Monitoring adalah perangkat yang digunakan untuk mengukur tingkat kebersihan suatu permukaan atau cairan. ATP sendiri adalah singkatan... selengkapnya
Mengetahui Pupuk NPK Palsu di Pasaran, Pupuk merupakan bahan utama dalam proses penyuburan tanaman sehingga menjadi kebutuhan utama bagi para... selengkapnya
Dalam era pertanian modern, efisiensi dan ketepatan adalah kunci keberhasilan. Salah satu teknologi yang kini banyak digunakan adalah drone sprayer.... selengkapnya
Manfaat Pupuk NPK Untuk Tanaman dan Kandungannya, banyak jenis pupuk yang beredar di pasaran, mulai dari pupuk kimia sampai dengan... selengkapnya
Pertanian lahan kering merupakan salah satu jenis pertanian yang dilakukan di wilayah yang memiliki curah hujan rendah atau tidak teratur.... selengkapnya
Mikroba adalah organisme mikroskopis yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan biasanya hanya dapat diamati menggunakan mikroskop. Mikroba mencakup... selengkapnya
Jual Coating Thickness Meter Murah – Mengukur ketebalan cat ? Waduh apa ya bisa diukur, sudah menempel di benda tipis... selengkapnya
Alat Pengukur Getaran Mesin Vibration Meter VM-6360 merupakan salah satu alat pengukuran yang digunakan untuk mengukur getaran pada suatu mesin…. selengkapnya
*Harga Hubungi CSpH ORP Chlorine Tester AMT26 salah alat pengukuran parameter kandungan pada air, alat ini digunakan untuk mengukur asam dan basa… selengkapnya
*Harga Hubungi CSManual Tablet Hardness Tester YD-1 adalah alat yang digunakan untuk menguji kekerasan/hardness pada tablet (obat) sehingga mengetahui kualitas produksi tablet… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDigital Oxygen Bomb Calorimeter XRY-1A+ adalah salah satu type dari Calorimeter yang digunakan untuk mengukur nilai kalor atau kandungan panas… selengkapnya
*Harga Hubungi CSSalinity Meter Saku SB-1500PRO adalah Salt Meter saku dengan desain portable yang mudah digunakan untuk mengukur kadar garam pada cairan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSHandheld ATP Hygiene Monitor BioLum-E II adalah alat pengukur ATP portabel untuk mengukur dan menunjukkan kontaminasi dengan cara yang mudah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDigital Oxygen Bomb Calorimeter XRY-1A : Instrumen ini dirancang dan dibuat sesuai dengan Standar Nasional Republik Rakyat Cina GB /… selengkapnya
*Harga Hubungi CSEnvironment Tester 5 IN 1 AMF035 adalah multi tester untuk mengukur keadaan lingkungan sekeliling, alat ini menggabungkan beberapa fungsi parameter… selengkapnya
*Harga Hubungi CSColorimeter (Color Difference Meter) AMT506 alat professional untuk pengukuran warna, didesain dengan desain yang futuristik dan elegan, sangat mudah dan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPortable Speedy Grain Moisture Meter adalah Pengukur Kelembaban Bijian atau Pengukur Kadar Air Bijian dengan menggunakan metode pengambilan sampel langsung… selengkapnya
*Harga Hubungi CS

Saat ini belum tersedia komentar.