● online
Teknik Penanganan Pasca Panen Padi
Teknik Penanganan Pasca Panen Padi adalah tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan (pemanenan) hasil pertanian yang meliputi hasil tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan sampai siap untuk dipasarkan (Anonim, 1986). Hasil utama pertanian adalah hasil pertanian yang merupakan produk utama untuk tujuan usaha pertanian dan diperoleh hasil melalui maupun tidak melalui proses pengolahan (Anonim, 1986).
Padi (Oriza sativa) adalah salah satu komoditi utama di Indonesia dengan produktivitas rata-rata untuk tahun 2015 sebesar 53,41 kuintal/ha. Padi telah dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia bahkan sebelum penjajahan terjadi yaitu 1500 SM dibawa oleh nenek moyang yang bermigrasi dari dataran Asia. Proses pembudidayaan padi dilakukan oleh petani baik secara konvensional maupun modern dengan menggunakan alat dan mesin pertanian. Penanganan padi dari mulai panen hingga menjadi produk akhir yang siap didistribusikan dinamakan pascapanen padi. Pascapanen padi adalah serangkaian tahapan kegiatan yang meliputi pemungutan (pemanenan) malai, perontokan gabah, penampian, pengeringan, pengemasan, penyimpanan, dan pengolahan sampai siap dipasarkan atau dikonsumsi. Proses pascapanen memiliki tujuan untuk mengurangi kehilangan hasil, menekan tingkat kerusakan hasil panen, meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas pertanian, meningkatkan nilai tambah dan pendapatan, meningkatkan devisa negara dan perluasan kesempatan kerja, melestarikan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Penanganan pasca panen hasil pertanian meliputi semua kegiatan perlakuan dan pengolahan langsung terhadap hasil pertanian yang karena sifatnya harus segera ditangani untuk meningkatkan mutu hasil pertanian agar mempunyai daya simpan dan daya guna lebih tinggi. Sesuai dengan pengertian tersebut diatas, kegiatan pascapanen meliputi kegiatan pemungutan hasil (pemanenan), perawatan, pengawetan, pengangkutan, penyimpanan, pengolahan, penggundangan dan standardisasi mutu ditingkat produsen.
Padi yang telah dipanen kemudian perlu dipisahkan antara gabah dan malainya dengan cara dirontokkan menggunakan beberapa metode yaitu diinjak/iles, pukul/gedig, banting/gebot, pedal thresher, dan mesin perontok. Thresher sebagai salah satu alat perontok padi modern terdiri dari 2 tipe berdasarkan posisi pemotongan, apabila dipotong bawah menggunakan pedal thresher dan apabila dipotong tengah atau atas menggunakan power thresher.Setelah didapatkan gabah dari proses perontokan, proses pascapanen selanjutnya adalah pembersihan padi/penampian dari kotoran. Proses penampian dapat dilakukan sebelum atau sesudah proses pengeringan, apabila proses pascapanen dari padi menggunakan combine harvester maka proses penampian tidak perlu dilakukan karena produk dari mesin combine harvester sudah dalam kondisi bersih dari kotoran dan gabah hampa, namun bila tidak menggunakan combine harvester maka proses pembersihan padi perlu dilakukan untuk memperoleh gabah bersih. Prinsip penampian adalah menggunakan hembusan angin baik secara alami maupun dengan aliran angin buatan(artificial wind).
Pengeringan diperlukan untuk mengurangi kadar air dari gabah, hal ini dikarenakan standar kadar air maksimum gabah untuk disimpan adalah 14%. Air yang berada pada gabah sangat beresiko menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme yang dapat merusak kualitas gabah. Terdapat dua cara pengerigan yaitu pengeringan alami (paparan sinar matahari langsung) dan pengeringan buatan (mekanis). Pengeringan alami biasanya dilakukan dengan cara menyebarkan gabah diatas terpal dan ditempatkan di areal terbuka. Cara ini memiliki kekurangan yaitu intensitas cahaya matahari yang tidak dapat dikontrol, losses karena faktor cuaca maupun hewan disekitar dan rentan terkena kotoran disekitar areal penjemuran sehingga cara ini mulai ditinggalkan dan berpindah ke cara pengeringan mekanis yang lebih terkontrol, bersih dan losses dapat dikurangi. Tipe pengering mekanis bermacam-macam bergantung terhadap kebutuhan, contoh batch dryer, recirculated dryer, continuous dryer, dan lain sebagainya.
Gabah yang bersih dan kering kemudian disimpan baik dalam keadaan curah (tanpa dikemas) atau di kemas. Penyimpanan gabah dalam keadaan curah memerlukan sebuah bangunan khusus yang berfungsi sebagai penampung gabah dengan karakteristik dan rancangbangun yang telah diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan penyimpanan, secara garis besar bangunan simpan curah dibedakan menjadi dua yaitu bunker dan silo. Sedangkan untuk penyimpanan dengan pengemasan, gabah dapat dikemas dengan mengunakan pengemas berbahan goni atau plastik. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih kemasan yaitu kemasan harus dapat melindungi gabah dari efek pengangkutan dan penyimpanan, kemasan tidak boleh mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari gabah dan tidak boleh membawa organisme penganggu (hama), kemasan harus berasal dari material yang kuat dan mampu menahan beban tumpukan, dan mampu mempertahankan keseragaman dari kualitas gabah.
Rendahnya mutu gabah disebabkan oleh tingginya kadar kotoran dan gabah hampa serta butir mengapur mengakibatkan rendahnya rendemen beras giling yang diperoleh (Setyono dkk. 2000). Butir mengapur selain dipengaruhi oleh faktor genetika, juga dipengaruhi oleh teknik pemupukan dan pengairan, sedangkan kadar kotoran dipengaruhi oleh faktor teknis, yaitu cara perontokan. Oleh karena sebagian besar pemanen merontok padinya dengan cara dibanting atau dengan menggunakan pedal thresher, maka gabah yang diperoleh mengandung kotoran dan gabah hampa cukup tinggi.
Tahapan penanganan pasca panen padi :
-
Penumpukan dan Pengumpulan.
Penumpukan dan pengumpulan merupakan tahap penanganan pasca panen setelah padi dipanen. Ketidak-tepatan dalam penumpukan dan pengumpulan padi dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang cukup tinggi. Untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kehilangan hasil sebaiknya pada waktu penumpukan dan pengangkutan padi menggunakan alas. Penggunaan alas dan wadah pada saat penumpukan dan pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil antara 0,94 – 2,36 %.
-
Perontokan.
Setelah dipanen, gabah harus segera dirontokkan dari malainya. Tempat perontokan dapat langsung dilakukan di lahan atau di halaman rumah setelah diangkut ke rumah. Perontokan ini dapat dilakukan dengan perontok bermesin ataupun dengan tenaga manusia. Bila menggunakan mesin, perontokan dilakukan dengan menyentuhkan malai padi ke gerigi alat yang berputar. Sementara perontokan dengan tenaga manusia dilakukan dengan cara batang padi dipukul-pukulkan, malai padipun dapat diinjak-injak agar gabah rontok. Untuk mengantisipasi agar gabah tidak terbuang saat perontokan maka tempat perontokan harus diberi alas dari anyaman bambu atau lembaran plastik tebal (terpal). Dengan alas tersebut maka seluruh gabah diharapkan dapat tertampung Setelah dirontokkan, butir-butir gabah dikumpulkan di gudang penyimpanan sementara. Oleh karena tidak semua petani memiliki gudang sementara, pengumpulan dapat dilakukan di teras rumah atau bagian lain dari rumah yang tidak terpakai. Gabah tersebut tidak perlu dimasukkan dalam karung,tetapi cukup ditumpuk setinggi maksimal 50 cm.
-
Pengeringan
Agar tahan lama disimpan dan dapat digiling menjadi beras, maka gabah harus dikeringkan. Pengeringan gabah umumnya dilakukan di bawah sinar matahari. Gabah yang dikeringkan ini dihamparkan di atas lantai semen terbuka. Penggunaan lantai semen terbuka ini agar sinar matahari dapat secara penuh diterima gabah. Bila tidak memiliki halaman atau tempat terbuka yang disemen maka halaman tanah pun dapat dipakai untuk penjemuran. Namun, gabah perlu diletakkan pada alas anyaman bambu, tikar atau lembaran plastik tebal. Hal ini dilakukan agar gabah tidak tercampur dengan tanah. Lama jemuran tergantung iklim dan cuaca, bila cuaca cerah dan matahari bersinar penuh sepanjang hari, penjemuran hanya berlangsung sekitar 2 – 3 hari. Namun, bila keadaan cuaca terkadang mendung atau gerimis dan terkadang panas. Waktu penjemurannya dapat berlangsung lama sekitar seminggu,sampai kadar air mencapai 14%.
-
Penggilingan
Penggilingan dalam pasca panen padi merupakan kegiatan memisahkan beras dari kulit yang membungkusnya. Pemisahan ada 2 cara : 1) Secara tradisional menggunakan alat sederhana, yaitu lesung dan alu; 2) Pemisahan beras dari kulitnya dapat dilakukan dengan cara modern atau dengan alat penggiling yaitu Hulle. Kendala penggilingan gabah secara tradisional adalah pengerjaannya sangat lambat, tenaga kerja yang memadai tidak tersedia dan alatnya sulit dijumpai. Sedangkan hasil yang diperoleh pada penggilingan dengan alat penggiling gabah Hulle sama dengan cara tradisional, yaitu pada tahap pertama diperoleh beras pecah kulit. Pada penggilingan tahap kedua, beras akan menjadi putih bersih.
- Penyimpanan Beras
Beras organik yang sudah digiling secara tradisional maupun modern dapat langsung dipasarkan. Namun, karena umumnya beras tidak langsung dapat dipasarkan seluruhnya maka perlu ada tempat penyimpanan. Teknik penyimpanan beras harus diperhatikan agar kondisinya tetap bagus hingga saatnya akan dijual
Umumnya beras disimpan di gudang setelah dikemas dalam karung plastik berukuran 40 Kg atau 50 Kg. Pengemasan dalam karung ini dilakukan secara manual oleh petani. Bagian karung yang terbuka dijahit tangan hingga tertutup rapat
Dalam gudang penyimpanan dapat saja beras diserang oleh hama bubuk. Biasanya hama bubuk ini menyerang beras yang tidak kering benar saat pengeringan. Hama bubuk tidak menyukai beras yang kering karena keras. Selain itu, hama bubuk pun menyukai tempat lembab sehingga ruangan gudang harus kering, yang dilengkapi dengan ventilasi udara. Penumpukan karung berisi beras di dalam gudang pun harus ditata sedemikian rupa agar beras yang sudah lebih dahulu disimpan dapat mudah keluar lebih awal.
-
Pemasaran
Ada dua cara pemasaran beras di Indonesia, pertama petani menjual langsung di lahan pada saat sudah siap panen kepada pedagang pengumpul yang disebut penebas. Penebas inilah yang akan memanen dan mengolahnya lebih lanjut menjadi beras. Kedua, petani sendiri yang memanen,mengeringkan,lalu menjual kepedagang pengumpul,baik berupa gabah kering giling atau sudah menjadi beras. Penjualan beras biasanya dilakukan petani langsung kepada pedagang beras di pasar, dititipkan kepasar swalayan atau dijual langsung ke konsumen.
Tags: Alat Ukur Kadar Air Gabah, Penanganan Pasca Panen Padi, Proses Pasca Panen Padi
Teknik Penanganan Pasca Panen Padi
Parameter BOD dan COD merupakan dua parameter yang seringkali menjadi acuan dalam menentukan kualitas air limbah. Pada keduanya akan menghitung... selengkapnya
Jual Particle Counter Alat Penghitung Debu Murah yaitu alat yang digunakan untuk mengukur debu di udara, sebagai perlindungan dan pencegahan... selengkapnya
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia beras merupakan makanan pokok sebagai sumber karbohidrat penyedia tenaga bagi tubuh. Beras merupakan produk olahan... selengkapnya
Vaksin Corona Akhirnya Ditemukan, Pandemi corona sudah berlangsung berbulan-bulan, di mulai Bulan Desember 2019 di Wuhan Cina sehingga dinamakan COVID-19... selengkapnya
Cara Memupuk Tanaman Jagung Yang Baik dan Benar agar tanaman jagung kita bisa tumbuh dengan subur dan sehat. Dalam budidaya... selengkapnya
Jual Viscometer Murah – Viskositas (viscosity) yaitu salah satu sifat unik yang dimiliki oleh fluida cair. Viskositas sama dengan kemampuan... selengkapnya
Dalam era modern, kebutuhan akan alat canggih untuk mendukung pendidikan dan pertanian semakin meningkat. Salah satu teknologi terbaru yang kini... selengkapnya
Kematangan buah adalah tahap perkembangan di mana buah mencapai ukuran, warna, rasa, dan tekstur optimal untuk dikonsumsi. Mengkonsumsi buah yang... selengkapnya
Jual Alat Ukur Kelembaban Udara / Digital Temperature Humidity Meter. Alat pengukur kelembaban udara tentunya sudah tidak asing lagi di telinga, hal... selengkapnya
Survei menggunakan Alat Ubinan yang dilakukan oleh BPS bertujuan untuk mendapat nilai produktivitas padi per hektar. Sementara luas panen didapatkan... selengkapnya
Hot Plate Magnetic Stirrer MS-300 and MS-400 didesain dengan sirkuit digital dan CPU berkinerja tinggi, jumlah maksimum dapat mencapai kisaran… selengkapnya
*Harga Hubungi CSMulti Gas Detector BX616 merupakan alat yang berfungsi dan bekerja dengan cara mendeteksi berbagai gas yang ada di sekitarnya. Pada… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDigital Alcohol Tester AMT139 mudah digunakan unutk pengujian dan pengukuran kadar alkohol pada nafas manusia. Mudah diaplikasikan dan hasil pengukuran… selengkapnya
*Harga Hubungi CSSpesifikasi Alat Pengguji Kadar Air Bijian BA002 : Alat Pengguji Kadar Air Bijian BA002 digunakan untuk mengukur kadar air dari… selengkapnya
*Harga Hubungi CSSeed Neatness Workbench” adalah istilah yang merujuk pada alat atau meja kerja yang dirancang khusus untuk memisahkan, membersihkan, dan mengolah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSApa Sih Colony Counter itu ? Colony Counter AMC-003 adalah alat inspeksi bakteri semi-otomatis dengan tampilan layar digital. Counter probe… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFitur Utama Portable Dissolved Oxygen Meter DO-820/821 : Kalibrasi otomatis : Meteran dapat dikalibrasi oleh satu atau dua poin. Meter… selengkapnya
*Harga Hubungi CSAutomatic Pensky-Martens Closed Cup Flash Point Tester SYD-261D dirancang dan diproduksi sesuai standar GB / T 261-2008 Penentuan Flash Point… selengkapnya
*Harga Hubungi CS6 in 1 Multi Gas Detector BX618 adalah alat untuk menguji kandungan gas di udara dengan mempunyai banyak parameter pengukuran… selengkapnya
*Harga Hubungi CSAlat Pengukur Cahaya Lux Meter LX1330B adalah alat yang digunakan untuk mengukur besarnya intensitas cahaya di suatu tempat. Besarnya intensitas… selengkapnya
*Harga Hubungi CS

Saat ini belum tersedia komentar.